Ditulis pada tanggal 13 July 2018, oleh admin, pada kategori Berita

WhatsApp Image 2018-08-01 at 19.00.00 Salah satu dosen Jurusan Teknik Kimia, Juliananda, S.T., M.Sc., mengikuti Pelatihan Konseling bagi Dosen Penasihat Akademik pada Rabu (11/7). Pelatihan yang diinisiasi oleh Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu Universitas Brawijaya (LP3M-UB) tersebut diharapkan dapat menjadikan dosen penasihat akademik sebagai konselor bagi mahasiswa. Saat ditemui di ruangannya beberapa waktu lalu, Juliananda menyatakan bahwa dosen akademik ini memiliki akses tercepat ke mahasiswa bimbingannya. Akses ke mahasiswa ini diharapkan mampu membuat dosen untuk dapat mengenal perilaku mahasiswanya. “Karena kita mau UB kategori juara berapa kan kembali ke mahasiswanya,” tutur Juliananda.Bu Nanda, sapaan akrabnya, juga menyebutkan jika selama ini mahasiswa banyak yang salah pemahaman jika hanya menganggap dosen penasihat akademik hanya untuk menandatangani Kartu Rencana Studi (KRS) saja. “Dosen penasihat akademik itu juga bertugas untuk menasihati mahasiswa tidak hanya dari segi akademiknya saja, tapi juga non-akademik, kita juga ada tanggung jawab disana,” jelasnya.

Menurut Bu Nanda, Dosen penasihat akademik merupakan orang yang pertama dalam mengetahui permasalahan dibalik kondisi akademik mahasiswa dan diharapkan dosen tersebut mampu menjadi konselornya. “Harapan untuk mahasiswa, kalau ada masalah apapun, harus bisa membuat dosennya itu sebagai teman dan dosennya juga harus paham,” ujarnya. Bu Nanda menjelaskan bahwa banyak mahasiswa yang rata-rata kondisi akademiknya menurun namun masalahnya tidak hanya dari segi akademik, lebih ke non-akademik seperti keluarga dan finansial.

Dari keterangan yang diperoleh saat wawancara, selain dosen penasihat akademik, terdapat fasilitas e-counseling yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa. Fasilitas tersebut dibuat oleh tim psikologis Universitas Brawijaya. “Jadi minimal di tahap satu ini bisa dikonseling sama dosen PA-nya. Kalau tidak ada perbaikan, istilahnya kita rujuk ke pihak universitas,” terang Bu Nanda.

“Sebenarnya jawaban atau jalan keluar itu sudah dimiliki oleh si konseling, hanya saja si konseling ini kurang bisa membuat keputusan, nah ini yang dibantu oleh konselornya,” jelas Bu Nanda di akhir wawancara.

Dilansir dari laman daring LP3M-UB (www.lp3m.ub.ac.id), kegiatan pelatihan ini diadakan hingga 12 Juli 2018 dan berlokasi di Ubud Cottages Malang. Pengisi materi yang turut hadir diantaranya, Ari Pratiwi S.Psi., Ulifa Rahma S.Psi., Ratri Nurwanti S.Psi., dan Dra. Ika Widyarini. (rtp/red)